Rabu, 03 Oktober 2012

Xanthomonas oryzae Penyebab Penyakit Kresek pada Padi


Xanthomonas oryzae Penyebab Penyakit  Kresek
pada Padi

            Penyakit kresek yang biasa juga disebut Xoo merupakan penyakit penting pada tanaman padi di Indonesia bahkan di Asia Tropis. Penyakit kresek yang disebabkan bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1884. Penyakit ini telah dikenal secara umum di Indonesia sejak tahun 1948, dan hampir selalu ditemukan pada setiap areal pertanaman padi, tidak saja pada tanaman padi gogo, tetapi juga pada padi sawah dengan intensitas serangan yang berbeda.
Di Sumatera Barat penyakit kresek selalu dilaporkan menyerang tanaman padi dengan luas serangan berfluktuasi setiap tahunnya. Dalam periode 1986-1990 penyakit kresek ini telah menjadi penyakit terpenting diantara penyakit utama lainnya. Patogen penyebab penyakit ini tidak saja menyerang tanaman muda tetapi juga menyerang tanaman dewasa. Apabila menyerang tanaman muda, penyakit ini disebut kresek, yang dapat mematikan tanaman, sedangkan apabila menyerang tanaman dewasa penyakit ini disebut hawar (blight)/hawar daun bakteri. Secara umum kehilangan hasil akibat penyakit ini berkisar 20-60 %.
Gejala Serangan
Berdasarkan fase pertumbuhan tanaman, gejala penyakit yang disebabkan Xoo (Xantomonas Oryzae)  pada tanaman padi dapat dibedakan atas dua tipe gejala yaitu :
1.      Gejala kresek
Gejala kresek ditemukan pada tanaman muda, gejala mulai terlihat 1-2 minggu setelah bibit tanaman padi pindah kelapangan. Daun-daun tanaman padi yang terserang penyakit ini berbunyi kresek-kresek ketika tertiup angin. Untuk lebih memudahkannya dinamakan penyakit ini dengan nama penyakit kresek. Gejala diawali dengan bercak kecil kebasahan atau water soaking pada tepi daun yang terus berkembang ke bagian bawah. Patogen akan lebih cepat menyerang apabila bibit padi dipotong ujungnya. Dekat bekas potongan terjadi becak hijau kelabu, dan seiiring dengan itu ibu tulang daun menjadi berwarna kuning. Sejalan dengan berkembangnya bercak, daun mulai menguning, kering lebih cepat dan akhirnya menjadi layu, helaian daun menggulung, dan daun melipat sepanjang tulang daun. Warna daun yang kering segera beroabah menjadi kuning jerami sampai coklat muda. Gejala dapat juga meluas ke upih daun. Bakteri Xoo dapat menyerang beberapa daun sampai seluruh daun hingga membuat tanaman menjadi mati. Bakteri Xoo juga dapat mengadakan infeksi melalui luka-luka pada akar sebagai akibat pencabutan yang tidak hati-hati.
2.      Gejala Hawar
Gejala hawar (blight) atau yang lebih dikenal dengan nama hawar daun bakteri/hdb, ditemukan pada tanaman dewasa terutama pada fase bunting. Gejala awal berupa bercak kebasahan pada satu sisi atau kedua sisi daun yang di mulai dari ujung daun. Bercak terus meluas berwarna hijau keabu-abuan, kebasahan dan kemudian mengering berwarna abu-abu keputihan. Akibat serangan pathogen ini membuat rusaknya klorofil daun tanaman, sehingga kemampuan daun tanaman untuk melakukan fotosintesa menjadi tidak optimal, pertumbuhan tanaman terhambat dan akhirnya menurunkan produksi.
Daur penyakit
Bakteri Xoo menginfeksi tanaman padi secara alami melalui luka dan hidatoda (pori-pori) yang terdapat pada daun. Angin dapat mengakibatkan daun tanaman padi saling beregesekan dan menimbulkan luka. Perkembangan penyakit di lapangan di pacu oleh pemakaian varietas unggul baru yang rentan, jarak tanam yang rapat, serta pemakaian pupuk nitrogen yang tinggi. Disamping itu bibit yang dipindahkan yang dipotong ujung daunnya sewaktu tanam,  mempercepat terjadinya proses infeksi penyakit. Berat ringan intensitas serangan penyakit dilapangan juga dipengaruhi oleh curah hujan total, adanya hujan lebat, banjir, air pengairan, angin kencang serta suhu tinggi (25-30 0C). Patogen tidak saja menyerang tanaman padi yang dibudidayakan, tetapi juga menyerang tanaman padi liar seperti Oryza rufipogon, O.australiensis, O.nivara, dan O.glaberima. Disamping itu juga menyerang gulma sebagai tumbuhan alternative seperti Leersia oryzoides var japonica, L.oryzoides, dan Zizania latifolia.

Pengendalian.
Selama ini usaha pengendalian penyakit kresek/hawar daun bakteri ini adalah denganmenggunakan varietas tahan, bibit umur tua, pemupukan lengkap dan berimbang, dan menggunakan bakterisida. Pengendalian bakteri Xoo dengan bakterisida/kimia ternyata kurang efektif dan tidak ekonomis serta dapat membentuk ketahanan bakteri Xoo terhadap bahan kimia tersebut. Diasmping itu bahan kimia yang dipakai dapat merugikan manusia karena residu yang ditinggalkan bersifat racun dan karsinogen (merangsang timbulnya penyakit kanker).
Untuk itu pengendalian penyakit kresek/hawar daun bakteri harus dilakukan secara terpadu. Beberapa alternative yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit kresek/hawar daun bakteri ini adalah :
1)      Melaksanakan budidaya padi dengan sistim Padi Tanam Sabatang (PTS) Organik.
Banyak keuntungan yang akan diperoleh dengan menjalankan sistim PTS Organik, disamping dapat mengendalikan penyakit kresek/hawar daun bakteri, biaya yang digunakan untuk produksi tanaman juga murah, produksi tidak turun/bahkan meningkat dan tentunya keuntungan yang akan diperoleh petani tentu juga meningkat. Apabila petani telah menjalankan budidaya PTS organik dilahan sawahnya sebenarnya secara tidak disadari petani telah menjalankan pengendalian penyakit krsek/hawar daun bakteri secara preventif (pencegahan).
Beberapa teknologi PTS yang dapat mengendalikan/ menurunkan serangan dari penyakit kresek adalah:
a)      Seleksi benih dengan air garam dan telur.
Semua petani yang melaksanakan budidaya PTS organik tentu sudah paham bahwa seleksi benih padi dengan metoda air garam dan telur, dipastikan bahwa benih yang bernas saja yang lolos dengan sistim seleksi ini. Keunggulan dari benih yang bernas adalah tumbuh kuat dan lebih tahan terhadap penyakit, termasuk penyakit krsek/hawar daun bakteri.
b)      Dalam teknologi PTS Organik tidak dianjurkan untuk memotong ujung/pucuk tanaman padi
Keuntungannya adalah tidak terjadi pelukaan pada tanaman padi. Sebagaimana diketahui bahwa pelukaan adalah salah satu cara dari bakteri Xoo untuk menyerang tanaman padi. Dengan tidak memotong pucuk daun padi sebelum pindah ke lapangan berarti petani telah mencegah infeksi dari bakteri Xoo.
c)      Sedikit sekali kemungkinan akar bibit tanaman padi yang akan terluka.
Dalam persemaian PTS Organik, benih padi disemaikan secara teratur dan ruang untuk tumbuhnya cukup luas dan tidak berdesak-desakan antara satu benih dengan benih lain, dan apabila dicabut tidak akan mengganggu perakaran tanaman padi lain. Dengan tidak adanya luka pada perakaran bibit tanaman padi, juga sebagai salah satu cara untuk menghindari masuknya pathogen Xoo kedalam jaringan padi.
d)     Bibit tanaman yang ditanam hanya 1 batang.
Dengan hanya menanam bibit tanaman padi 1 batang maka pergesekkan dengan daun tanaman padi lainnya dalam satu rumpun pada awal tanam oleh tiupan angin tidak akan terjadi. Apabila pergesekkan antar daun tidak terjadi, maka kemungkinan lukanya daun tanaman padi juga menjadi kecil.
e)      Jarak tanam yang lebih lebar
Dengan sistim PTS Organik jarak tanam yang digunakan lebih lebar yaitu (25 cm x 25 cm) atau (25 cm x 30 cm) bahkan (30 cm x 30 cm). Dengan jarak tanam yang lebih lebar juga akan mengurangi gesekkan daun tanaman padi antar rumpun, yang akhirnya juga menghindari pelukaan pada daun tanaman padi.
f)       Sistim pengairan berkala.
Salah satu cara penyebaran dari penyakit kresek/hawar daun bakteri adalah melalui air pengairan. Dengan melaksanakan PTS organik berarti sistim pengairannya akan dilaksanakan dengan sistim berkala(tanaman tidak terus menerus diairi), dan tentu saja akan mengurangi jumlah pathogen Xoo yang menyebar melalui air pengairan.
g)      Pemakaian kompos jerami
Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyakit kresek/hawar daun bakteri di tingkat lapang adalah pemakaian pupuk nitrogen yang tinggi, terutama pupuk nitrogen pabrikan seperti Urea. Semakin tinggi dosis pupuk nitrogen yang diaplikasi ke tanaman padi semakin besar peluang tanaman untuk terserang penyakit kresek/hawar daun bakteri.

Dengan semakin langkanya pupuk urea serta harganya yang semakin mahal, sebenarnya adalah saat yang paling tepat untuk petani untuk menggunakan sumber daya lokal yang ada disekeliling mereka. Tanaman padi sebenarnya bukan butuh urea, tetapi tanaman padi butuh nitrogen. Sumber nitrogen itu sangat banyak. Sumber nitrogen bukan dari urea saja tetapi sumber nitrogen ada disekeliling petani yang lebih dikenal sebagai sumber daya lokal seperti : kompos jerami, pupuk kandang, urine ternak, hijauan, aneka nutrisi, Mol, pupuk mikroba,NPK cair, dan lain sebagainya.
Apabila petani mengembalikan seluruh jerami hasil panen tanaman padi ke lahan, itu berarti petani telah memupuk dengan setengah dosis pemupukan. Setengah dosis pemupukan lagi dapat berasl dari pupuk organik lainnya seperti yang disebutkan diatas. Apabila jerami dikembalikan kelahan tanaman padi, berarti petani tidak membakar jerami tersebut. Keuntungannya adalah langit tetap biru bebas polusi asap.
Dengan mengembalikan jerami kembali kelahan dan ditambah dengan pemakain pupuk organik lainnya berarti petani secara berangsur-angsur telah mulai memperbaiki kesuburan tanahnya yang mulai menurun akibat pemakain pupuk kimia sintetis. Dengan pemakaian kompos jerami ditambah dengan pupuk organik lainnya berarti petani kembali memperbaiki kesuburan lahanya baik secara fisika, kimia, maupun biologi tanahnya. Lahan yang subur akan membuat tanaman padi tumbuh sempurna dan kuat yang akan lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit, termasuk penyakit kresek/hawar daun bakteri.

2)      Induksi ketahanan/Imunisasi benih padi sebelum tanam
Di daerah yang kronis endemis penyakit kresek/hawar daun bakteri, sebaiknya setelah dilakukan seleksi benih dengan air garam dan telur, selanjutnya benih padi dapat ditingkatkan ketahanannya melalui induksi ketahanan (imunisasi). Imunisasi dapat dilakukan dengan agens hayati/agens antagonis seperti dengan Pseudomonas fluorescens (Pf). Sebelum tanam benih padi direndam dalam larutan Pf selama 15 menit dan kemudian dikering anginkan selama 24 jam kemudian baru ditanam. Agar larutan Pf menempel pada permukaan benih padi, pada larutan Pf dapat ditambahkan tepung kanji.

3)      Pupuk susulan dengan pupuk kalium cair
Untuk meningkatkan ketahanan tanaman padi di lapangan adalah dengan menambahkan pupuk kalium. Untuk tanaman padi organik sumber pupuk kaliumnya adalah kompos jerami, NPK organik cair, Kalium organik cair, Nutrisi batang bunga matahari, dan lain-lain. Dengan secara rutin penambahan pupuk Kalium organik akan meningkatkan ketahanan tanaman padi dari serangan penyakit kresek/hawar daun bakteri.

4)      Aplikasi agens hayati/agens antagonis.
Untuk menambah kekuatan tanaman padi untuk tahan terhadap serangan penyakit kresek adalah dengan mengaplikasikan agens hayati/agens antagonis. Salah satu jenis agens hayati/antagonis adalah Corynebacterium sp. Aplikasikasikan pada pertanaman muda saat tanaman padi berumur 14, 28, dan 42 hari setelah tanam, bila ditemukan gejala penyakit dimaksud

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar